Mameluks

ource : http://en.wikipedia.org/wiki/Mamluk

Kutipan:
A Mamluk (Arabic: مملوك (singular), مماليك mamālīk (plural), “owned”; also transliterated mamluq, mamluke, mameluk, mameluke, mamaluke or marmeluke) was a soldier of slave origin who had converted to Islam. The “mamluk phenomenon,” as David Ayalon has called it, was of great political importance and was extraordinarily long-lived, lasting from the 9th to the 19th century AD. Over time, mamluks became a powerful military caste in various Muslim societies. Particularly in Egypt, but also in the Levant, Iraq, and India, mamluks held political and military power. In some cases, they attained the rank of sultan, while in others they held regional power as amirs or beys. Most notably, mamluk factions seized the sultanate for themselves in Egypt and Syria in a period known as the Mamluk Sultanate (1250–1517). The Mamluk Sultanate famously beat back the Mongols and fought the Crusaders.

Mamluk ( Arabic: مملوك (singular), مماليك mamālīk (plural), “dimiliki”; juga diterjemahkan sebagai mamluq, mamluke, mameluk, mameluk, mamaluke atau marmeluke) adalah seorang prajurit yang berasal dari kaum budak yang telah masuk Islam. “Fenomena mamluk,” sebagai mana David Ayalon menyebutnya, adalah per-politikan penting yang luar biasa besar dan berumur panjang, yang berlangsung dari abad ke 9 sampai abad ke-19 Masehi. Seiring berjalannya waktu, mamluk menjadi kasta militer yang kuat di berbagai masyarakat Muslim. Terutama di Mesir, tetapi juga di Levant, Irak, dan India, kaum mamluk memegang kekuasaan politik dan militer. Dalam beberapa kasus, mereka mendapat kedudukan sebagai sultan, sementara di kasus lain mereka memegang kekuasaan daerah sebagai amir atau beys. Kasus yang paling menonjol, dimana golongan mamluk merebut kesultanan sendiri di Mesir dan Suriah dalam periode yang dikenal sebagai Kesultanan Mamluk (1250-1517). Kesultanan Mamluk terkenal karena memukul mundur bangsa Mongol dan bertempur dengan para Crusaders.

Kutipan:
They were of varied ancestry but were often Kipchak Turks,[1] depending on the period and region in question. While mamluks were purchased, their status was above ordinary slaves, who were not allowed to carry weapons or perform certain tasks. In places such as Egypt from the Ayyubid dynasty to the time of Muhammad Ali of Egypt, mamluks were considered to be “true lords,” with social status above freeborn Muslims.

Mereka adalah keturunan dari berbagai variasi tetapi yang paling sering adalah Kipchak Turks*, tergantung pada periode dan wilayah yang bersangkutan. Sewaktu seorang mamluk dibeli, status mereka berada di atas budak biasa, yang tidak diizinkan untuk membawa senjata atau melakukan tugas tertentu. Di tempat-tempat seperti di Mesir, dari dinasti Ayyubiyah hingga ke era Muhammad Ali dari Mesir, mamluk dianggap sebagai “penguasa yang sesungguhnya” dengan status sosial di atas mereka yang terlahir sebagai se-orang Muslim.

*Kipchak Turks : merupakan keturunan dari masyarakat kuno Turkic, selain Cuman Turks

Overview

Kutipan:
The story of military slavery in Islamic societies begins with the Abbasid caliphs of the 9th century Baghdad. The earliest mamluks were known as ghilman (another term for slaves, broadly synonymous[3]) and were bought by the early Abbasid caliphs. By the middle of the 9th century, these slaves had become the dominant element in the military. Conflict between these ghilman and the population of Baghdad prompted the caliph al-Mu’tasim to move his capital to the city of Samarra, but this did not succeed in calming tensions; the caliph al-Mutawakkil was assassinated by some of these slave-soldiers in 861.[4] The Abbasids bought slave-soldiers mainly from areas near the Caucasus (mainly Circassian and Georgian), and from areas north of the Black Sea (Kipchak and other Turks). Those captured had non-Muslim backgrounds.

Kisah perbudakan militer di masyarakat Islam dimulai dengan para khalifah Abbasiyah abad 9 di Baghdad . Kaum mamluk yang paling awal dikenal sebagai ghilman (istilah lain dari budak) dan dibeli oleh para khalifah awal Abbasiyah . Pada pertengahan abad ke-9, budak-budak tersebut telah menjadi unsur dominan didalam militer. Konflik antara ghilman dan penduduk Baghdad mendorong khalifah al-Mu’tashim untuk memindahkan ibukota ke kota Samarra, namun hal ini tetap tidak berhasil menenangkan ketegangan yang terjadi; khalifah al-Mutawakkil dibunuh oleh beberapa slave-soldiers ini di tahun 861. Bani Abbasiyah membeli slave-soldiers terutama dari daerah dekat Caucasus (terutama Circassian dan Georgian), dan dari daerah utara Laut Hitam ( etnies Kipchak dan etnies Turki lainnya). Mereka yang ditangkap memiliki latar belakang non-Muslim.

Kutipan:
The use of mamluk soldiers gave rulers troops who had no link to any established power structure. Local non-mamluk warriors were often more loyal to their tribal sheikhs, their families, or nobles than to the sultan or caliph. If a commander conspired against the ruler, it was often not possible to deal with the conspiracy without causing unrest among the nobility. The mamluk slave-troops were strangers of the lowest possible status who could not conspire against the ruler and who could easily be punished if they caused trouble, making them a great military asset.

Pengguna’an tentara mamluk memberikan penguasa’an pasukan dimana tentara tersebut ( mamluk ) tidak memiliki link ke setiap struktur kekuasaan yang didirikan. Prajurit local yang non-mamluk seringkali lebih setia kepada syekh suku mereka, keluarga mereka, atau bangsawan daripada kepada sultan atau kepada khalifah. Jika seorang komandan berkomplot melawan penguasa, hal itu sering kali tidak memungkin-kan untuk be-konspirasi, tanpa menimbulkan keresahan di kalangan bangsawan. Pasukan Budak mamluk adalah orang asing dari status terendah yang tidak akan bisa berkomplot melawan penguasa dan yang dengan mudah bisa dihukum jika mereka menimbulkan masalah, sehingga menjadi aset militer yang besar.

Kutipan:
After the fragmentation of the Abbasid Empire, military slaves, known as either mamluks or ghilman, became the basis of military power throughout the Islamic world. The Fatimids of Egypt bought Armenian, Turkic and Sudanese slaves, who formed the bulk of their military and often their administration.[5] The powerful vizier Badr al-Jamali, for example, was a mamluk of Armenian origin. In Iran and Iraq, the Buyids used Turkic slaves throughout their empire, such as the rebel al-Basasiri who eventually ushered in Saljuq rule in Baghdad after attempting a failed rebellion. When the later Abbasids regained military control over Iraq, they also relied on military slaves called ghilman.[6]

Setelah keterpecahan the Abbasid Empire, para budak militer, yang dikenal sebagai mamluk atau ghilman, menjadi basis of military power di seluruh dunia Islam. Kaum Fatimiyah Mesir membeli etnies Armenia, Turki dan budak Sudan, yang membentuk sebagian besar militeris mereka dan seringkali administration mereka . The powerful vizier Badr al-Jamali, misalnya, adalah seorang mamluk asal Armenia. Di Iran dan Irak, kaum Buyids menggunakan budak Turki di seluruh kekaisaran, seperti pembangkang al-Basasiri yang pada akhirnya mengantarkan penguasa Saljuq di Baghdad setelah percoba’an pemberontakan yang gagal. Ketika Bani Abbasiyah kemudian kembali meng-kontrol militer atas Irak, mereka juga bergantung pada budak militer mereka yang disebut ghilman.

Kutipan:
Under Saladin and the Ayyubids of Egypt, the power of the mamluks increased until they claimed the sultanate in 1250, ruling as the Mamluk Sultanate. Military slavery continued to be employed throughout the Islamic world until the 19th century, when modern regimes began to predominate. The Ottoman Empire’s devşirme, or “gathering” of young slaves for the Janissary corps, lasted until the 17th century, while mamluk-based regimes thrived in such Ottoman provinces as Iraq and Egypt into the 19th century.

Di bawah Saladin dan the Ayyubids of Egypt, kekuatan mamluk meningkat sampai mereka mengklaim kesultanan di 1250, memerintah sebagai Kesultanan Mamluk. Para budak Militer terus dipekerjakan di seluruh dunia Islam sampai abad ke-19, ketika rezim modern mulai mendominasi. Devşirme Kekaisaran Ottoman’s , atau “mengumpulkan” para budak muda untuk Janissary corps, berlangsung hingga abad ke-17, sementara basis rezim mamluk tumbuh di provinsi Ottoman seperti Irak dan Mesir hingga abad ke-19.

Organization

Kutipan:
Under the Mamluk Sultane of Cairo, mamluks were purchased while still young and were raised in the barracks of the Citadel of Cairo. Because of their particular status (no social ties or political affiliations) and their austere military training, they were often trusted. Their training consisted of strict religious and military education to help them become “good Muslim horsemen and fighters.”[2] When their training was completed they were discharged, but still attached to the patron who had purchased them. Mamluks relied on the help of their patron for career advancements and likewise the patron’s reputation and power depended on his recruits. A mamluk was also “bound by a strong esprit de corps to his peers in the same household.”

Di bawah Mamluk Sultane of Cairo, para mamlukers dibeli saat mereka masih muda dan dibesarkan di dalam barak-barak di Citadel of Cairo. Karena status particular mereka (tidak ada ikatan sosial atau afiliasi politik) dan pelatihan keras militer , mereka sering kali dipercaya. Pelatihan mereka terdiri dari pendidikan agama dan militer yang ketat untuk membantu mereka menjadi “good Muslim horsemen and fighters”. Ketika training mereka telah selesai mereka pun dipulangkan, namun masih tetap terikat pada patron yang telah membeli mereka. Mamluk mengandalkan bantuan dari patron mereka untuk kemajuan karir dan juga reputasi patron dan power yang bergantung pada perekrutan-nya . Seorang mamluk juga “terikat oleh sebuah esprit de corps yang kuat kepada rekan-rekannya dalam household yang sama.”

Kutipan:
Mamluks were proud of their origin as slaves and only those who were purchased were eligible to attain the highest positions. The privileges associated with being a mamluk were so desirable that many free Egyptians arranged themselves to be sold in order to gain access to this privileged society. Mamluks spoke Arabic and cultivated their identity by retaining an Egyptian name. However despite humble origins and an exclusive attitude, mamluks were respected by their Arab subjects. They earned admiration and prestige as the “true guardians of Islam by repelling both the Crusaders and the Mongols.”[2] Many people viewed them as a blessing from God to the Muslims.

Mamlukers bangga akan asal mereka sebagai budak dan mereka yang dibeli hanya sesudah memenuhi syarat untuk mencapai posisi tertinggi. Hak istimewa yang berkaitan dengan menjadi seorang mamluk sangat lah didambakan, sehingga banyak dari orang bebas Mesir yang mengatur diri mereka untuk dijual dalam rangka untuk mendapatkan akses ke masyarakat yang istimewa. Mamluk berbicara dalam bahasa Arab dan membudayakan identitas mereka dengan mempertahankan nama Mesir. Namun meskipun ber-asal usul yang rendah dan eksklusifitas sikap, mamluk dihormati oleh masyarakat Arab mereka. Mereka mendapat penghargaan dan prestise sebagai “Penjaga sejati Islam dengan memukul mundur baik Tentara Salib dan Mongol”. Banyak orang memandang mereka sebagai berkat dari Tuhan untuk umat Islam.

Kutipan:
After mamluks had converted to Islam, many were trained as cavalry soldiers. Mamluks had to follow the dictates of furusiyya, a code that included values such as courage and generosity, and also cavalry tactics, horsemanship, archery and treatment of wounds, etc.

Setelah para mamluk meng-converted ke Islam, banyak dari mereka yang di-training sebagai cavalry soldiers. Mamluk harus mengikuti dictates of furusiyya*, suatu code yang mencakup nilai-nilai seperti keberanian, dan kemurahan hati, dan juga taktik kavaleri, menunggang kuda, memanah dan perawatan luka, dll

*dictates of furusiyya : adalah suatu diktat yang mencakup Arabic knightly martial yiatu , berkuda, memanah, dan menyerang dengan tombak.Ibn Qayyim Al-Jawziyya kemudian hari menambahkan berpedang sebagai disiplin ke-4

Kutipan:
Mamluks lived within their garrisons and mainly spent their time with each other. Their entertainments included sporting events such as archery competitions and presentations of mounted combat skills at least once a week. The intensive and rigorous training of each new recruit helped ensure continuity of mamluk practices.

Mamluk tinggal di dalam garnisun mereka dan terutama untuk menghabiskan waktu mereka satu sama lain. Hiburan mereka termasuk acara olahraga seperti lomba memanah dan presentations of mounted combat skills setidaknya seminggu sekali . Pelatihan yang intensif dan ketat setiap kali merekrut anggota baru membantu menjamin kelangsungan hidup praktek mamluk.

Kutipan:
While they were no longer actually slaves after training, they were still obliged to serve the Sultan. The Sultan kept them as an outsider force, under his direct command, to use in the event of local tribal frictions. The Sultan could also send them as far as the Muslim regions of Iberia.

Sementara mereka tidak lagi benar-benar sebagi budak setelah pelatihan, mereka masih tetap wajib untuk melayani Sultan. Sultan membuat mereka sebagai kekuatan asing, di bawah perintahnya langsung, untuk digunakan dalam hal menangani friksi-friksi suku setempat. Sultan juga bisa mengirim mereka sampai ke daerah-daerah muslim di Iberia.

Kutipan:
Sultans had the largest number of mamluks, but lesser amirs could have their own troops as well. Many mamluks rose to high positions throughout the empire, including army command. At first their status remained non-hereditary and sons were strictly prevented from following their fathers. However over time, in places such as Egypt, the mamluk forces became linked to existing power structures and gained significant amounts of influence on those powers. A similar evolution occurred in the Ottoman Empire with the Janissaries.

Sultan memiliki para mamluk dengan jumlah terbesar , tapi amir yang lebih rendah dapat memiliki pasukan pribadi sendiri juga. Banyak para mamluk yang meningkat ke posisi tinggi di seluruh kekaisaran, termasuk dalam komando ketentara’an. Pada awalnya status mereka tetaplah tidak-diwariskan dan seoarng anak lelaki secara ketat dicegah untuk mengikuti ayah mereka ( mewarisi apa yang dimiliki ayahnya, terutama kedudukan di dalam pemerintahan ) . Akan tetapi, seiring dengan berjalan nya waktu, di tempat-tempat seperti Mesir, pasukan mamluk menjadi terkait dengan struktur kekuasaan yang ada dan mendapatkan pengaruh dalam jumlah yang signifikan terhadap kekuasa’an. Suatu evolusi yang sama terjadi dalam Ottoman Empire dengan para Janissary-nya

Mamluk power in Egypt

Early Mamluks in Egypt

Kutipan:
Ahmed ibn Tulun was a Turkish Mamluk whose father was sent as a gift to the Abbasid Caliph al-Ma’mun in (200H./815–16 A.D.). Ibn Tulun was sent to Egypt in 868 as regent governor for the Abbasids, but through diplomatic intrigue and military might, he effectively operated his Tulunid dynasty autonomously as the earliest Mamluk ruler in Egypt. The Tulunid dynasty was short-lived, and Egypt was reoccupied by Abbassid forces in the winter of 904–05.

Ahmed ibn Tulun adalah seorang Turkish Mamluk yang ayahnya dikirim sebagai hadiah kepada Khalifah Abbasiyah al-Ma’mun di (200H./815-16 AD). Ibn Tulun dikirim ke Mesir pada 868 sebagai gubernur untuk kepentingan Bani Abbasiyah, tetapi melalui intrik diplomatik dan kekuatan militer, dia secara efektif menjalankan dinasti Tulunid-nya mandiri sebagai penguasa Mamluk di Mesir awal. Tulunid dinasti berumur pendek, dan Mesir kembali di-duduki oleh pasukan Abbassid pada musim dingin 904-05.

Kutipan:
Throughout the next centuries, Egypt was controlled by a variety of rulers, notably the Ikhshidids and Fatimids. Throughout these dynasties, thousands of Mamluk servants and guards continued to be employed, and even took high offices, including governor of Damascus. This increasing level of influence worried the Arab rulers, foreshadowing the eventual rise of a Mamluk sultan.

Selama berabad-abad berikutnya, Mesir dikendalikan oleh berbagai penguasa, terutama Ikhshidids dan Fatimiyah. Selama dinasti-dinasti ini, ribuan hamba Mamluk dan guards terus dipekerjakan, dan bahkan mengambil tempat di kantor petinggi, termasuk gubernur Damaskus. peningkatan level pengaruh ini membuat khawatir para penguasa Arab, suatu penggambara’an yang pada akhirnya membangkitkan seorang sultan Mamluk.

Kutipan:
The origins of the Mamluk Sultanate of Egypt lie in the Ayyubid Dynasty that Saladin (Salah al-Din) founded in 1174. With his uncle Shirkuh he conquered Egypt for the Zengid King Nur al-Din of Damascus in 1169. By 1189, after the capture of Jerusalem, Saladin had consolidated the dynasty’s control over the Middle East. After Saladin’s death his sons fell to squabbling over the division of the Empire, and each attempted to surround himself with larger expanded mamluk retinues.

Asal-usul Mamluk Sultanate of Egypt terletak pada Dinasti Ayyubiyah yang Saladin (Salah al-Din) didirikan pada 1174. Dengan pamannya, Shirkuh, ia menaklukkan Mesir untuk seorang Raja Zengid, Nur al-Din of Damascus, tahun 1169. Pada 1189, setelah merebut Yerusalem, Saladin meng-konsolidasi-kan kendali dinasti-nya meng-control seluruh Timur Tengah. Setelah kematian Saladin, anak-anaknya jatuh ke dalam konflik atas pembagian Kekaisaran, dan masing-masing berusaha untuk mengelilingi dirinya dengan serombongan besar mamluk yang diperluas.

Kutipan:
By 1200 Saladin’s brother Al-Adil succeeded in securing control over the whole empire by defeating and killing or imprisoning his brothers and nephews in turn. With each victory Al-Adil incorporated the defeated mamluk retinue into his own. This process was repeated at Al-Adil’s death in 1218, and at his son Al-Kamil’s death in 1238. The Ayyubids became increasingly surrounded by the power of the mamluks, acting semi-autonomously as regional Atabegs, and soon involved them in the internal court politics of the kingdom itself.

Pada tahun 1200, saudara Saladin, Al-Adil berhasil mengamankan kendali atas seluruh kerajaan dengan mengalahkan dan membunuh atau memenjarakan saudara-saudaranya dan keponakan secar ber-giliran. Dimana dalam setiap kemenangan-nya, Al-Adil menggabungkan rombongan mamluk yang dikalahkan ke dalam kepemilikannya sendiri. Proses ini ber-ulang pada saat kematian Al-Adil pada 1218, dan pada kematian putranya, Al-Kamil di 1238. Dinasti Ayyubiyah menjadi semakin dikelilingi oleh kekuatan mamluk, bertindak semi-autonomously sebagai Atabegs* regional, dan segera saja mereka terlibat dalam politik internal kerajaan itu sendiri.

*Atabeg : pada mula nya merupakan title dari turkic nobility, yang meng-indikasikan bahwa dirinya merupakan semacam governor atau penguasa wilayah

Kutipan:
In 1315 they invaded and conquered a great part of Nubia, but the power remained with a Nubian prince converted from Coptic Orthodox to Islam.

Pada 1315 mereka menyerbu dan menaklukkan sebagian besar dari Nubia, tetapi kekuasaan tetap berada di tangan seorang pangeran Nubia yang dikonversi dari Coptic Orthodox to Islam.

French attack and Mamluk takeover

Kutipan:
In June 1249, the Seventh Crusade under Louis IX of France landed in Egypt and took Damietta. The Egyptian troops retreated at first, spurring the sultan to hang more than 50 commanders as deserters. When the Egyptian sultan As-Salih Ayyub died, the power passed briefly to his son Turanshah and then his favorite wife Shajar Al-Durr (or Shajarat-ul-Dur). She took control with mamluk support and launched a counterattack. Troops of the Bahri commander Baibars defeated Louis’s troops. The king delayed his retreat too long and was captured by the Mamluks in March 1250, and agreed to a ransom of 400,000 livres (150,000 of which were never paid)[7]. Political pressure for a male leader made Shajar marry the mamluk commander Aybak; he was later killed in his bath, and in the power struggle that ensued vice-regent Qutuz took over. He formally founded the first Mamluk sultanate and the Bahri dynasty.

Pada Juni 1249, Crusader Ketujuh di bawah Louis IX of France mendarat di Mesir dan mengambil Damietta. Pasukan Mesir mundur pada awalnya, memacu sultan untuk menggantung lebih dari 50 komandan sebagai desertir. Ketika sultan Mesir As-Saleh Ayyub meninggal, kekuasaan hanya sebentar melewati anaknya Turanshah, dan kemudian ke istri favoritnya, Shajar Al-Durr (atau Shajarat-ul-Dur). Dia mengambil kendali dengan dukungan kaum mamluk dan melancarkan counterattack. Pasukan dari Bahri commander, Baibars mengalahkan pasukan Louis. Raja menunda pengundurannya terlalu lama dan akhirnya ditangkap oleh Mamluk pada Maret 1250, dan setuju untuk membayar tebusan sebesar 400.000 livre (dimana 150.000 diantaranya tidak pernah dibayar). Tekanan politik bagi kepemimpinan laki-laki membuat Shajar menikahi komandan mamluk Aybak*, Aybak kemudian terbunuh di kamar mandi, dan dalam perjuangan berebut kekuasaan yang berlangsung, Qutuz vice-regent mengambil alih kuasa. Dia secara resmi mendirikan kesultanan Mamluk pertama dan dinasti Bahri.

*Izz al-Din Aybak : Sultan Mamluk pertama di Mesir

Kutipan:
The first Mamluk dynasty was named Bahri after the name of one of the regiments, the Bahriya or River Island regiment. The name Bahri (بحري meaning “of the sea or river”) referred to their center in al-Rodah Island in the Nile. The regiment consisted mainly of Kipchak Turks.

Dinasti Mamluk pertama bernama Bahri mengambil nama salah satu resimen, the Bahriya or River Island regiment. Nama Bahri (بحري berarti “f the sea or river”) mengacu pada pusat mereka di pulau al-Rodah di Sungai Nil. Sebagian besar Resimen terdiri dari Kipchak Turks.

Mamluks and the Mongols

Kutipan:
When the Mongol Empire’s troops of Hulagu Khan sacked Baghdad in 1258 and advanced towards Syria, Mamluk Emir Baibars (Turkish: Baybars) left Damascus for Cairo where he was welcomed by Sultan Qutuz. After taking Damascus, Hulagu demanded that Qutuz surrender Egypt but Qutuz had Hulagu’s envoys killed and, with Baibars’ help, mobilized his troops. Although Hulagu had to leave for the East when great Khan Möngke died in action against the Southern Song, he left his lieutenant, the Christian Kitbuqa, in charge. Qutuz drew the Mongol army into an ambush near the Orontes River, routed them at the Battle of Ain Jalut and captured and executed Kitbuqa (see Qutuz).

Ketika the Mongol Empire’s troops of Hulagu Khan memporak-porandakan Baghdad pada tahun 1258 dan bergerak maju ke Suriah, Mamluk Emir Baibars (Turkish: Baybars) meninggalkan Damascus untuk ke Cairo di mana dia disambut oleh Sultan Qutuz. Setelah mengambil Damaskus, Hulagu meminta agar Qutuz menyerahkan Mesir tapi Qutuz menewaskan utusan Hulagu dan, dengan bantuan Baibars , ia memobilisasi pasukannya. Meskipun Hulagu harus pergi untuk Timur ketika great Khan Möngke meninggal ketika melawan Song Selatan, ia meninggalkan letnan-nya, Christian Kitbuqa, sebagai orang yang bertanggung jawab. Qutuz menggiring tentara Mongol ke penyergapan dekat Sungai Orontes, memukul mundur mereka dalam Pertempuran Ain Jalut dan menangkap dan meng-eksekusi Kitbuqa .

Kutipan:
After this great triumph, Qutuz was assassinated by conspiring Mamluks. It was said that Baibars, who seized power, was involved in the assassination. In the following centuries power was often transferred this way: the average reign of a mamluk ruler was seven years.

Setelah kemenangan besar ini, Qutuz dibunuh oleh per-sekongkolan para Mamluk. Dikatakan bahwa Baibars, yang merebut kekuasaan, terlibat dalam pembunuhan itu. Pada abad-abad berikutnya kekuasaan sering berpindah dengan cara seperti ini: rata-rata pemerintahan seorang penguasa mamluk adalah tujuh tahun.

Kutipan:
The Mamluks defeated the Mongols a second time in Homs in 1260 and began to drive them back east. In the process they consolidated their power over Syria, fortified the area, formed mail routes, and formed diplomatic connections between the local princes. Baibars’s troops attacked Acre in 1263, captured Caesaria in 1265, and took Antioch in 1268.

Mamluk mengalahkan bangsa Mongol untuk kedua kalinya di Homs pada 1260 dan mulai mengusir mereka kembali ke timur. Dalam proses itu mereka mneg-konsolidasi-kan kekuasaan mereka atas Syria, membentengi daerah itu, membentuk rute surat-menyurat , dan membentuk hubungan diplomatik dengan para local princes. pasukan Baibars’s menyerang Acre di 1263, mendapatkan Caesaria tahun 1265, dan mengambil Antioch di 1268.

This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 800×530.


The battle of Wadi al-Khazandar, 1299. depicting Mamluk cavalry and Mongol archers

Kutipan:
Mamluks also defeated new Mongol attacks in Syria in 1271, 1281 (2nd Battle of Homs), 1303/1304 and 1312. They were defeated by the Mongols and their Christian allies at the Battle of Wadi al-Khazandar in 1299. Finally, the Mongols and the Mamluks signed the peace treaty in 1323.

Mamluk juga mengalahkan serangan baru bangsa Mongol di Syria pada 1271, 1281 ( Pertempuran kedua Homs), 1303/1304 dan 1312. Mereka kemudian dikalahkan oleh Mongol dan sekutu Christian mereka di Battle of Wadi al-Khazandar di 1299. Akhirnya, bangsa Mongol dan Mamluk menandatangani perjanjian damai pada 1323.

Burji dynasty

Kutipan:
In 1382 the Bukri or Burji dynasty took over, as Barkuk was proclaimed sultan, so ending the Bahri dynasty. Burji (برجي meaning “of the tower”) referred to their center in the citadel of Cairo. The dynasty consisted mainly of Circassians (in Turkic Bukri means hunchbacked).

Pada 1382 Bukri* atau dinasti Burji mengambil alih, sebagai mana Barkuk yang mem-proklamirkan sebagai Sultan , sehingga mengakhiri Dinasti Bahri. Burji (برجي berarti “menara”) mengacu pada pusat mereka di citadel of Cairo. Dinasti ini terutama terdiri dari para Circassians (di dalam bahasa Turkic, Bukri berarti bungkuk).

*Al-Malik Az-Zahir Sayf ad-Din Barquq al-Cherkesi adalah sultan pertama dinasti Burji

Kutipan:
Barkuk became an enemy of Timur, who threatened to invade Syria. The Sultan of the Ottoman Empire Bayezid I then invaded Syria which was regained by Mamluk sultan Faraj when Timur died in 1405, but continually facing rebellions from local emirs he was forced to abdicate in 1412. That year 1421 Egypt was attacked by the Kingdom of Cyprus, but the Egyptians forced the Cypriotes to acknowledge the suzerainty of the Egyptian sultan Barsbay. During Barsbay’s reign Egypt’s population was greatly reduced from what it had been a few centuries before, with only 1/5 the number of towns.

Barkuk menjadi musuh dari Timur ( tamerlane ) , yang mengancam akan menyerang Syria. The Sultan of the Ottoman Empire Bayezid I kemudian menginvasi Syria yang telah kembali ke pangkuan sultan Mamluk Faraj ketika Timur meninggal pada 1405, tapi terus menghadapi pemberontakan dari amir lokal yang membuatnya terpaksa turun tahta pada 1412. Pada tahun 1421 Mesir diserang oleh Kingdom of Cyprus, tetapi orang-orang Mesir berhasil memaksa Cypriotes mengakui kedaulatan sultan Mesir Barsbay* . Selama pemerintahan Barsbay di Mesir populasi penduduk sangat berkurang dari yang telah ada beberapa abad sebelumnya, dengan hanya 1 / 5 dari jumlah kota-kota.

*Al-Ashraf Sayf-ad-Din Barsbay sultan ke 9 Burji Mamluk of Egypt dari1422 M hingga 1438 M.

Kutipan:
Al-Ashraf came to power in 1453 and had friendly relations with the Ottoman Empire, who captured Constantinople later that year, causing great rejoicings in Egypt. However, under the reign of Khoshkadam Egypt began the struggle between the Egyptian and the Ottoman sultanates. In 1467 sultan Kait Bey offended the Ottoman sultan Bayezid II, whose brother was poisoned. Bayezid II seized Adana, Tarsus and other places within Egyptian territory, but was eventually defeated. Kait also tried to help the Muslims in Spain by threatening the Christians in Syria, but without effect. He died in 1496, several hundred thousand ducats in debt to the great Venetian trading families.

Al-Asyraf berkuasa pada tahun 1453 dan memiliki hubungan baik dengan Ottoman Empire, yang kemudian merebut Constantinople pada penghujung tahun itu, menyebabkan kegembira’an besar di Mesir. Namun, di bawah pemerintahan Khoshkadam, Mesir mulai pergulatan antara Mesir dan Ottoman sultanates. Pada 1467 Sultan Kait Bey tersinggung oleh sultan Ottoman Bayazid II, yang saudara-nya diracuni. Bayazid II menyita Adana, Tarsus dan tempat-tempat lain di dalam wilayah Mesir, tetapi akhirnya dikalahkan. Kait juga mencoba untuk membantu kaum Muslim di Spanyol dengan mengancam orang-orang Christians di Syria, tapi tanpa efek yang ber-arti. Dia meninggal pada 1496, dengan beberapa ratus ribu dukat utang kepada keluarga besar perdagangan Venesia.

Portuguese-Mamluk Wars

Kutipan:
Vasco da Gama having in 1497 CE found his way round the Cape of Good Hope pushed his way across the Indian Ocean to the shores of Malabar and Kozhikode, attacking the fleets that carried freight and Muslim pilgrims from India to the Red Sea, and struck terror into the potentates all around. Various engagements took place. Cairo’s Mamluk sultan Al-Ashraf Qansuh al-Ghawri was affronted at the attacks upon the Red Sea, the loss of tolls and traffic, the indignities to which Mecca and its Port were subjected, and above all at the fate of one ship of his. He vowed vengeance upon Portugal, first sending monks from the Church of the Holy Sepulchre as envoys he threatened Pope Julius II that if he did not check Manuel I of Portugal in their depredations on the Indian Sea, he would destroy all Christian Holy places.[9]

Vasco da Gama yang pada tahun 1497 Masehi menemukan jalan di sekitar Cape of Good Hope, membuat banyak pelaut melintasi Samudra Hindia ke pantai Malabar dan Kozhikode, menyerang armada yang membawa barang dan peziarah Muslim dari India ke Laut Merah, dan menebar teror ke seluruh penguasa di wilayah itu. Berbagai benturan terjadi. Mamluk kota Cairo Sultan Al-Asyraf Qansuh al-Ghawri merasa terhina pada serangan atas Laut Merah, hilangnya bea-cukai dan lalu lintas, penghinaan yang mana dialami juga oleh Mecca dan Pelabuhannya , dan semua hal diatas merupakan nasib yang dibentuk oleh kapal vasco. Dia bersumpah atas dendam-nya kepada Portugal, dikirimnya biarawan pertama dari Church of the Holy Sepulchre sebagai utusan yang mana ia mengancam Pope Julius II, bahwa jika dia tidak memeriksa Manuel I of Portugal dalam penghancuran mereka di Laut India, ia akan menghancurkan semua tempat Suci Christian.

Kutipan:
The Rulers of Gujarat and Yemen also turned for help to Egypt Mamluke Sultanate. The chief concern was the fitting-out a fleet in the Red Sea which should protect their sea routes from Portuguese attack. Jeddah was soon fortified as a harbor of refuge so Arabia and the Red Sea were protected, but the fleets in the Indian Ocean were at the mercy of the enemy.

Para Penguasa dari Gujarat dan Yaman juga berbalik membantu Egypt Mamluke Sultanate. Perhatian utama para chief adalah penata’an suatu armada di Laut Merah yang harus melindungi rute laut mereka dari serangan Portugis. Jeddah segera dibentengi sebagai pelabuhan perlindungan sehingga Arabia dan Laut Merah dilindungi, tetapi armada di Samudera India berada dalam pada belas kasihan musuh.

Kutipan:
Last Mamluk sultan Al-Ghawri accordingly fitted out a fleet of 50 vessels. As Mamluks had little expertise in naval warfare, the naval enterprise was carried out with the help of Ottomans.[10] In 1508 at the Battle of Chaul the Mamluk fleet won over Portuguese viceroy’s son Lourenço de Almeida but in the following year the Portuguese won Battle of Diu in which the Port city of Diu was wrested from the Gujarat Sultanate. Some years after, Afonso de Albuquerque attacked Aden, while the Egyptian troops suffered disaster in Yemen. Al-Ghawri fitted out a new fleet to punish the enemy and protect the Indian trade; but before its results were known, Egypt had lost her sovereignty, and the Red Sea with Mecca and all its Arabian interests had passed into Ottoman hands.

Sultan Mamluk Terakhir Al-Ghawri karenanya menata sebuah armada 50 kapal. Sebagai mana kaum Mamluk yang memiliki sedikit keahlian dalam perang laut, perusahaan naval yang melakukannya dengan bantuan Ottoman. Pada tahun 1508 pada Battle of Chaul, Armada Mamluk menang atas anak raja muda Portugis, Lourenço de Almeida tetapi pada tahun berikutnya Portugis menang dalam Battle of Diu di mana pelabuhan kota Diu telah direbut dari Gujarat Sultanate. Beberapa tahun setelah itu, Afonso de Albuquerque menyerang Aden, sementara tentara Mesir menderita bencana di Yaman. Al-Ghawri menata sebuah armada baru untuk menghukum musuh-musuh nya dan melindungi perdagangan orang-orang India, tapi sebelum hasilnya diketahui, Mesir telah kehilangan kedaulatan, dan Laut Merah dengan Mecca-nya dan semua kepentingan Arab telah berlalu ke tangan Ottoman.

Ottomans and the end of the Mamluk Sultanate

Kutipan:
Ottoman Sultan Bayezid II was engaged in Europe when a new ground of hostility with Egypt appeared in 1501.[weasel words] It arose out of the relations with the Safavid dynasty in Persia. Shah Ismail I sent an Embassy to the Venetians via Syria inviting them to join his arms and recover the territory taken from them by the “Porte” (Ottomans). Mameluk Egyptian sultan Al-Ghawri was charged by Selim at giving the envoys of the Safavid Ismail passage through Syria on their way to Venice and harboring refugees. To appease him, Al-Ghawri placed in confinement the Venetian merchants then in Syria and Egypt, but after a year released them.

Ottoman Sultan Bayazid II berbenturan di Eropa ketika sebuah area permusuhan baru dengan Mesir muncul pada 1501. Hal itu ditimbulkan dari hubungan Mesir dengan Safavid dynasty di Persia. Shah Ismail I mengirimkan duta ke Venesia melalui Suriah dan mengundang mereka untuk bergabung dengan tentaranya dan memulihkan wilayah-wilayah yang diambil dari mereka oleh “Porte” (Ottoman). Sultan Mameluk Mesir Al-Ghawri dituntut oleh Selim I ( Ottoman ) karena memberikan jalan bagi utusan Safavid Ismail melalui Suriah dalam perjalanan mereka ke Venesia dan menyembunyikan pengungsi. Untuk menenangkannya, Al-Ghawri menempatkan mereka dalam kurungan para pedagang Venesia kemudian di Syria dan Mesir, tapi setelah setahun mereka pun dibebaskan.

Kutipan:
After the Battle of Chaldiran on 1514, Selim I attacked the Bey of Dulkadir, an Egypt’s vassal had stood aloof, and sent his head to Mamluk Sultan Al-Ghawri. Secure now against Shah Ismail I, on 1516 CE he drew together a great army aiming at conquering Egypt, but to deceive it he represented his object to be the further pursuit of Shah Ismail I. In 1515 began the war which led to the later incorporation of Egypt and its dependencies in the Ottoman Empire, with Mamluk cavalry proving no match for the Ottoman artillery and the janissaries. On August 24, 1515, at the Battle of Merj Dabik Sultan Al-Ghawri was killed. Syria passed into Turkish possession, who were welcomed in many places as deliverance from the Mamelukes.

Setelah Battle of Chaldiran pada 1514, Selim I menyerang Bey of Dulkadir, suatu vassal Mesir yang telah berdiri sendiri, dan mengirimkan kepalanya ke Mamluk Sultan Al-Ghawri. Setelah cukup aman terhadapShah Ismail I , Selim I pada 1516 bergerak bersama pasukan besar yang bertujuan menguasai Mesir, tapi untuk mengecoh musuhnya ia menjelaskan bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk mengejar Shah Ismail I lebih lanjut . Pada 1515 peperangan dimulai yang kelak menyebabkan penggabungan Mesir dan wilayah dependensinya ke dalam Ottoman Empire, dengan kavaleri Mamluk yang terbukti bukan tandingan Ottoman artillery and the janissaries. Pada tanggal 24 Agustus 1515, di Battle of Merj Dabik Sultan Al-Ghawri dibunuh. Suriah lolos menjadi milik Turki, yang disambut di banyak tempat sebagai suatu pembebasan dari kaum Mameluke.

Kutipan:
The Mamluke Sultanate survived until 1517, when it was conquered by the Ottoman Empire. Ottoman sultan Selim I captured of Cairo on January 20, the center of power transferred then to Istanbul. Although not in the same form as under the Sultanate, the Ottoman Empire retained the Mamluks as an Egyptian ruling class and the Mamluks and the Burji family succeeded in regaining much of their influence, but remained vassals of the Ottomans.

The Mamluke Sultanate bertahan sampai 1517, ketika kesultanan itu dikuasai oleh Ottoman Empire. Ottoman Sultan Selim I menguasai Cairo pada 20 Januari, pusat kekuasaan kemudian dipindahkan ke Istanbul. Meskipun tidak dalam bentuk yang sama seperti di bawah Kesultanan, Ottoman Empire mempertahankan Mamluk sebagai Egyptian ruling class. Kaum Mamluk dan keluarga Burji berhasil mengembalikan sebagian besar pengaruh mereka, tetapi tetap sebagai vassal Ottomans.

Mamluks independence from the Ottomans

Kutipan:
In 1768, Sultan Ali Bey Al-Kabir declared independence from the Ottomans. However, the Ottomans crushed the movement and retained their position after his defeat. By this time new slave recruits were introduced from Georgia in the Caucasus.

Pada 1768, Sultan Ali Bey Al-Kabir menyatakan kemerdekaan-nya dari Ottoman. Namun demikian,Ottomans menghancurkan pergerakan tersebut dan mempertahankan posisi mereka setelah kekalahannya. Pada saat ini perekrutan budak baru diperkenalkan dari Georgia di Caucasus.

Kutipan:
Napoleon defeated Mamluk troops in the Battle of the Pyramids when he attacked Egypt in 1798 and drove them to Upper Egypt. The Mamluks still used their cavalry charge tactics, changed only by the addition of muskets.

Napoleon mengalahkan pasukan Mamluk dalam Battle of the Pyramids ketika ia menyerang Mesir pada tahun 1798 dan mengusir mereka ke Upper Egypt*. Mamluk masih tetap menggunakan cavalry charge tactics mereka , perubahan hanya dengan penambahan muskets.

*Upper Egypt adalah wilayah di selatan Egypt. Pembagian itu mengacu pada kebrada’an pantai mesir. wilayah yang dekat dengan pantai disebut “Lower” sementara yang jauh dari laut disebut “Upper”

Kutipan:
After the departure of French troops in 1801 Mamluks continued their struggle for independence, this time against the Ottoman Empire and Great Britain. In 1803, Mamluk leaders Ibrahim Beg and Usman Beg wrote a letter to the Russian consul-general and asked him to act as a mediator with the Sultan to allow them to negotiate for a cease-fire, and a return to their homeland Georgia. The Russian ambassador in Istanbul categorically refused to mediate because the Russian government was afraid of allowing Mamluks to return to Georgia, where a strong national liberation movement was on the rise which might have been encouraged by a Mamluk return.

Setelah kepergian French troops pada tahun 1801 Mamluk melanjutkan perjuangan mereka untuk memperoleh kemerdekaan, kali ini melawan Ottoman Empire dan Great Britain. Pada 1803, pemimpin Mamluk Ibrahim Beg and Usman Beg menulis surat kepada Russian consul-general dan memintanya untuk bertindak sebagai mediator dengan Sultan untuk memungkinkan mereka menegosiasikan gencatan senjata, dan mengembalikan tanah air mereka, Georgia. Duta Besar Rusia di Istanbul secara tegas menolak untuk menengahi karena pemerintah Rusia takut kemungkinan para Mamluk untuk kembali ke Georgia, di mana gerakan pembebasan nasional yang kuat sedang bangkit yang mungkin telah didorong oleh kembalinya para Mamluk.

Kutipan:
In 1805, the population of Cairo rebelled. This was an excellent opportunity for the Mamluks to seize power, but internal tension and betrayal prevented them from exploiting this opportunity. In 1806, the Mamluks defeated the Turkish forces several times, and in June the rival parties concluded a peace treaty by which Muhammad Ali, who had been appointed as governor of Egypt on 26 March 1806, was to be removed and the state authority in Egypt returned to the Mamluks. However, they were again unable to capitalize on the opportunity due to conflicts between the clans; Muhammad Ali kept his authority.

Pada 1805, penduduk Cairo memberontak. Ini adalah kesempatan sangat baik bagi Mamluk untuk merebut kekuasaan , tetapi ketegangan internal dan pengkhianatan mencegah mereka memanfaatkan kesempatan ini. Pada 1806, Mamluk mengalahkan pasukan Turki beberapa kali, dan pada bulan Juni, pihak rival memutuskan suatu perjanjian damai dengan Muhammad Ali, yang telah ditunjuk sebagai gubernur Mesir pada tanggal 26 Maret 1806, dimana Ali harus dibuang dan otoritas negara di Mesir kembali ke tangan Mamluk. Namun, mereka kembali tidak dapat memanfaatkan kesempatan itu karena konflik antar clan; Muhammad Ali terus mempertahankan otoritasnya.

End of Mamluk power in Egypt

Kutipan:
Muhammed Ali knew that eventually he would have to deal with the Mamluks if he ever wanted to control Egypt. They were still the feudal owners of Egypt and their land was still the source of wealth and power. The constant strain on sustaining the military manpower necessary to defend the Mamluks’s system from the Europeans and the Mongols would eventually weaken them to the point of collapse.

Muhammad Ali tahu bahwa pada akhirnya ia harus berurusan dengan Mamluk jika ia ingin menguasai Mesir selamanya. Mereka tetaplah feudal owners of Egypt dan tanah mereka masih-lah merupakan sumber kekayaan dan kekuasaan. Tekanan yang konstan pada penopang military manpower yang diperlukan untuk mempertahankan sistem Mamluk dari model orang Eropa dan Mongol pada akhirnya akan melemahkan mereka ke titik kehancuran.

Kutipan:
On March 1, 1811, Muhammad Ali invited all of the leading Mamluks to his palace to celebrate the declaration of war against the Wahhabis in Arabia. Between 600 and 700 Mamluks paraded in Cairo. Near the Al-Azab gates, in a narrow road down from Mukatam Hill, Muhammad Ali’s forces ambushed and killed almost all in what came to be known as the Massacre of the Citadel. According to period reports, only one Mamluk, whose name is given variously as Amim (also Amyn), or Heshjukur (a Besleney), survived when he forced his horse to leap from the walls of the citadel, killing it in the fall.

Pada tanggal 1 Maret 1811, Muhammad Ali mengundang semua pemuka Mamluk ke istananya untuk merayakan deklarasi perang terhadap kaum Wahhabi di Arabia. Antara 600 dan 700 kaum Mamluk berparade di Cairo. Di dekat gerbang Al-Azab, di jalan menurun sempit dari Mukatam Hill, pasukan Muhammad Ali menyergap dan membunuh hampir semua orang dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Massacre of the Citadel. Menurut laporan periode tersebut, hanya satu Mamluk, yang namanya dikabarkan bervariasi sebagai Amim (also Amyn), atau Heshjukur (a Besleney), berhasil selamat ketika dia memaksa kudanya melompat dari dinding benteng, membunuh kuda itu dalam kejatuhannya.

Kutipan:
During the following week, hundreds of Mamluks were killed throughout Egypt; in the citadel of Cairo alone more than 1,000 were killed. Throughout Egypt an estimated 3,000 Mamluks and their relatives were killed.

Selama seminggu berikutnya, ratusan Mamluk tewas di seluruh Egypt; di benteng Cairo sendiri lebih dari 1.000 tewas. Di seluruh Egypt diperkirakan 3.000 Mamluk dan keluarga mereka dibunuh.

Kutipan:
Despite these attempts by Muhammad Ali to defeat the Mamluks in Egypt, a party of them escaped and fled south into what is now Sudan. In 1811, these Mamluks established a state at Dunqulah in the Sennar as a base for their slave trading. In 1820, the sultan of Sennar informed Muhammad Ali that he was unable to comply with a demand to expel the Mamluks. In response, the pasha sent 4,000 troops to invade Sudan, clear it of Mamluks, and reclaim it for Egypt. The pasha’s forces received the submission of the kashif, dispersed the Dunqulah Mamluks, conquered Kordofan, and accepted Sennar’s surrender from the last Funj sultan, Badi VII.

Meskipun upaya ini dilakukan oleh Muhammad Ali untuk mengalahkan Mamluk di Egypt, sebagian dari mereka yang lolos dan melarikan diri ke selatan ke sebuah wilayah yang sekarang dikenal sebagai Sudan. Di tahun 1811, para Mamluk ini mendirikan suatu negara di Dunqulah di Sannar sebagai basis untuk perdagangan budak mereka. Pada tahun 1820, the sultan of Sennar meng-informasikan Sultan Muhammad Ali bahwa ia tidak dapat memenuhi permintaan untuk mengusir Mamluk. Sebagai tanggapan, pasha mengirim 4.000 pasukan untuk menyerang Sudan, jelas bahwa serangan itu ditujukan bagi Mamluk, dan meng-klaim wilayah itu kembali untuk Mesir. Pasukan pasha menerima penyerahan kashif , membubarkan the Dunqulah Mamluks, menaklukkan Kordofan, dan menerima Sennar’s surrender dari sultan terakhir Funj, Badi VII.

Ottomans and the end of the Mamluk Sultanate

Kutipan:
Ottoman Sultan Bayezid II was engaged in Europe when a new ground of hostility with Egypt appeared in 1501.[weasel words] It arose out of the relations with the Safavid dynasty in Persia. Shah Ismail I sent an Embassy to the Venetians via Syria inviting them to join his arms and recover the territory taken from them by the “Porte” (Ottomans). Mameluk Egyptian sultan Al-Ghawri was charged by Selim at giving the envoys of the Safavid Ismail passage through Syria on their way to Venice and harboring refugees. To appease him, Al-Ghawri placed in confinement the Venetian merchants then in Syria and Egypt, but after a year released them.

Ottoman Sultan Bayazid II berbenturan di Eropa ketika sebuah area permusuhan baru dengan Mesir muncul pada 1501. Hal itu ditimbulkan dari hubungan Mesir dengan Safavid dynasty di Persia. Shah Ismail I mengirimkan duta ke Venesia melalui Suriah dan mengundang mereka untuk bergabung dengan tentaranya dan memulihkan wilayah-wilayah yang diambil dari mereka oleh “Porte” (Ottoman). Sultan Mameluk Mesir Al-Ghawri dituntut oleh Selim I ( Ottoman ) karena memberikan jalan bagi utusan Safavid Ismail melalui Suriah dalam perjalanan mereka ke Venesia dan menyembunyikan pengungsi. Untuk menenangkannya, Al-Ghawri menempatkan mereka dalam kurungan para pedagang Venesia kemudian di Syria dan Mesir, tapi setelah setahun mereka pun dibebaskan.

Kutipan:
After the Battle of Chaldiran on 1514, Selim I attacked the Bey of Dulkadir, an Egypt’s vassal had stood aloof, and sent his head to Mamluk Sultan Al-Ghawri. Secure now against Shah Ismail I, on 1516 CE he drew together a great army aiming at conquering Egypt, but to deceive it he represented his object to be the further pursuit of Shah Ismail I. In 1515 began the war which led to the later incorporation of Egypt and its dependencies in the Ottoman Empire, with Mamluk cavalry proving no match for the Ottoman artillery and the janissaries. On August 24, 1515, at the Battle of Merj Dabik Sultan Al-Ghawri was killed. Syria passed into Turkish possession, who were welcomed in many places as deliverance from the Mamelukes.

Setelah Battle of Chaldiran pada 1514, Selim I menyerang Bey of Dulkadir, suatu vassal Mesir yang telah berdiri sendiri, dan mengirimkan kepalanya ke Mamluk Sultan Al-Ghawri. Setelah cukup aman terhadapShah Ismail I , Selim I pada 1516 bergerak bersama pasukan besar yang bertujuan menguasai Mesir, tapi untuk mengecoh musuhnya ia menjelaskan bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk mengejar Shah Ismail I lebih lanjut . Pada 1515 peperangan dimulai yang kelak menyebabkan penggabungan Mesir dan wilayah dependensinya ke dalam Ottoman Empire, dengan kavaleri Mamluk yang terbukti bukan tandingan Ottoman artillery and the janissaries. Pada tanggal 24 Agustus 1515, di Battle of Merj Dabik Sultan Al-Ghawri dibunuh. Suriah lolos menjadi milik Turki, yang disambut di banyak tempat sebagai suatu pembebasan dari kaum Mameluke.

Kutipan:
The Mamluke Sultanate survived until 1517, when it was conquered by the Ottoman Empire. Ottoman sultan Selim I captured of Cairo on January 20, the center of power transferred then to Istanbul. Although not in the same form as under the Sultanate, the Ottoman Empire retained the Mamluks as an Egyptian ruling class and the Mamluks and the Burji family succeeded in regaining much of their influence, but remained vassals of the Ottomans.

The Mamluke Sultanate bertahan sampai 1517, ketika kesultanan itu dikuasai oleh Ottoman Empire. Ottoman Sultan Selim I menguasai Cairo pada 20 Januari, pusat kekuasaan kemudian dipindahkan ke Istanbul. Meskipun tidak dalam bentuk yang sama seperti di bawah Kesultanan, Ottoman Empire mempertahankan Mamluk sebagai Egyptian ruling class. Kaum Mamluk dan keluarga Burji berhasil mengembalikan sebagian besar pengaruh mereka, tetapi tetap sebagai vassal Ottomans.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment